Senin, 04 Juli 2011

"HARI RAYA ORANG KUDUS dan MISA/DOA KHUSUS UNTUK PARA ARWAH.( Sharing from Father Bro...)


Tentang hal ini saya mempunyai dua pengalaman menarik;

1). Tahun 2006 saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjungan ke wilayah Tanimbar dan saya mendapatkan kesempatan untuk merayakan misa peringatan arwah pada stasi LAURAN, sebuah stasi yang tidak jauh dari kota Saumlaki, ibu kota Maluku Tenggara Barat. Dalam perayaan itu, saya membacakan intensi misa untuk arwah dengan jumlah mendekati 200-an. Wow...luar biasa kan? Tentunya juga saku saya jadi tebal karena semua intensi itu menjadi milik pastor yang merayakan misa. Anehnya, semua intensi itu harus dibacakan dalam misa, baik nama pemohon maupun yang didoakan. Berapa waktu yang harus digunakan untuk itu? Tapi, romo harus membacanya karena kalau tidak dibaca atau dibacakan secara umum saja maka akan mendapatkan keluhan dari umat. Pengalaman yang sama Anda bisa temukan dalam paroki atau stasi yang umatnya kebanyakan berasal dari suku KEI dan TANIMBAR, dua suku terbesar pemeluk agama Katolik di Maluku.

2). Lain Ambon (Indonesia) lain juga kebiasaan umat di Manila - Filipina. Sudah sejak hari sabtu dan puncaknya malam ini sampai esok tanggal 1 November, umat beramai-ramai mengunjungi pekuburan umum maupun khusus untuk mendoakan arwah sanak keluarga yang telah meninggal, bahkan sangat luar biasa karena kebanyakan dari mereka berkemah di atas pusaran sanak keluarga mereka; makan minuman dan semua kegiatan selama hari-hari ini dilaksanakan di atas lokasi pekuburan. Untuk menghormati kebiasaan ini maka esok tanggal 1 dijadikan oleh pemerintah sebagai hari libur nasional. Ya, hari doa untuk arwah sebenarnya nanti tanggal 2 November tapi kebiasaan umat Filipina untuk memuncakinya pada esok hari.

Tentunya ini menjadi kebanggaan bagi kita orang Katolik. Akan tetapi justru karena tradisi inilah maka saya mengajak kawula muda dalam group ini untuk berdiskusi bersama tentang dua hal ini, yakni:

1). MENGAPA KITA ORANG KATOLIK HARUS MENDOAKAN ORANG YANG TELAH MENINGGAL?

2). MENGAPA ADA ORANG YANG HARUS KE SURGA TAPI BERHENTI SEJENAK DI API PENYUCIAN? AJARAN TENTANG API PENYUCIAN

Dua hal ini dikemukakan sekarang bukan saja agar memberi pemahaman yang benar tentang perayaan2 itu, tetapi ini juga penting bagi kawula muda karena akan mendaptakan banyak pertanyaan dari teman-teman dari agama/gereja lain. Karena itu, baiklah kita berdiskusi bersama demi tujuan di atas.

Kuajak engkau kawula muda dengan jiwa dan semangat mudamu untuk berdiskusi. Dalam diskusi ini tidak ada yang namanya kalah atau menang, salah atau benar. Anda semua diberi kesempatan yang sama untk berbicara dan berpendapat.

Kunantikan pendapatmu! Mau tahu kenapa? KARENA AKU PERCAYA JIWA MUDAMU YANG SELALU MENCARI KEBENARAN. AYO BERPENDAPATLAH KARENA KAMU BISA!

The Discussion (diambil dari comment member, disadur,diedit utk kemudahan pembaca):

1. Secara Liturgis Gereja, Umat Allah memperingati para arwah umat beriman tiap tanggal 2 November, setahun sekali, setelah pesta para suci tanggal 1 November. Keduanya tak terpisahkan seperti mata uang logam. Dalam hal peringatan para orang kudus, kita berterima kasih bahwa hasil karya penebusan Kristus memberikan buahnya yakni dalam diri para suci, yang dapat menjadi suri teladan kita dalam hidup ini bagaimana mengabdi Tuhan seperti mereka. Dan tanggal 2 November, kita peringati mereka-mereka kaum beriman yang telah dipanggil menghadap-Nya khususnya dalam setahun bersangkutan. Mereka adalah kandidat-kandidat untuk masuk sorga, tetapi mereka mungkin masih ada noda dan kesalahan yang belum sempat disesali. Maka kita sebagai makhluk sosial dan sama-sama se-iman, hanya bisa memohon belas kasih dan kerahiman Tuhan bagi mereka. Tidakkah Yesus pernah bersabda: “Apa yang kaukehendaki Aku perbuat bagimu”. Mengapa kita boleh bersyukur dan memuji kerahiman Tuhan dan memohon sesuatu kepadaNya! (Mat 7:7-11; Mrk 10: 51).

2. Tgl 1 dan 2 November merupakan perayaan dlm Gereja Katolik yg diadakan setiap thn. Peryaan Orang Kudus adalah untuk menghormati jasa baik mrk selama hidup di dunia lwt sikap dan peranan mrk dlm menumbuh kembangkan hidup beriman Katolik bg sesama semasa hidup. Dalam hidupnya mrk membaktikan diri secara total kepada Allah lewat cara hidup seperti yg dikehendakiNYA. Sedangkan Perayaan arwah semua orang yg tlah dipanggil Tuhan, adalah untuk mendoakan mereka agar mendapatkan tempat dlm kerjaan Surga, terutama bagi mereka yg kini masih berada di api penyucian. dengan permohonan lwt doa2 kita, tentunya kita mempunyai harapan agar saudara saudari kita yg masih berada di api penyucian, diangkat dan untuk mengambil bagian dlm kerjaan surga, seperti yg dikehendaki oleh kita bersama dan seperti janji dan kehendak Allah bagi kita...yg tentunya menuntut sikap hidup kita yg sesuai dgn KehendakNYA semasa kita hidup.

3. Dear all, dalam rangka hari raya pesta orang kudus tanggal 1 November, dan hari raya pesta arwah di api pencucuian, ada satu buku yg bagus yg diterbitkan oleh mariancenter ( penerbit buku Ave Maria) yg menceritakan mengenai penampakan jiwa2 yg telah meninggal dunia yg masih berat di api pencucian, sudah ratusan tahun meminta tolong kepada Maria Sima dari Prancis untuk mendoakan mereka baik secara devosi Rosario atau misa kudus khusus. alangkah baiknya anda membaca atau bagi yg punya buku tersebut bisa menceritakan di wall ini. pada kesempatan ini barangkali ada baiknya romo Inno dan romo Patris, menjelaskan kepada kawula muda kita landasan Alkitabiah atau landasan Biblis kepercayaan api penyucian,surga dan neraka sebagai bahan buat kaum muda menghadapi aliran Kristen yg menggugat kepercayaan kita soal api penyucian ( dari Protestan) dan soal neraka (dari saksi Yehuwa). GBU.

4. 1). MENGAPA KITA ORANG KATOLIK HARUS MENDOAKAN ORANG YANG TELAH MENINGGAL?. Ada beberapa alasan mendasar yg dapat saya share-kan kepada sahabat2 yg tergabung di GROUP ini, yakni :1. Dalam iman kita yang teguh/kokoh/bulat/suci akan Yesus Kristus, Sang penyelamat umat manusia, maka mendoakan arwah orang beriman yang telah meninggal dunia adalah sebuah tindakan kasih yang dapat mempersatukan kita sebagai anak-anak Allah yang sejati. Makna doa yang kita panjatkan ke hadirat Allah, lebih-lebih bernada permohonan demi pengampunan dosa mereka. 2. Karena sumber dan puncak dari iman Katolik terletak pada “Sengsara, Wafat, dan Kebangkitan Kristus, Sang Juruselamat kita yang kekal". Dari sinilah kita diajak oleh Gereja untuk turut mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Kematian saudara-i kita mesti dimaknai secara teologis dalam tiga hal yakni “Sengsara, Wafat, & Kebangkitan Kristus”. Oleh sebab itu, dengan mendoakan orang yg telah meninggal dunia, maka sebenarnya kita sudah membantu meringankan beban dosa dari para arwah itu sendiri. Hukuman dalam bentuk apa pun yang kita alami di dunia ini tak sama bandingnya dengan hukuman di dunia akhirat. Oleh sebab itu, Gereja Katolik secara universal turut mendoakan arwah orang beriman yang telah meninggal dunia.3. Karena siapa pun yang telah menerima sakramen Baptis dari seorang imam, dia telah sah menjadi anak Allah sejati dan kepadanya dikarunia Roh Kudus yang senantiasa membimbingnya seumur hidup. Nah, lewat penerimaan sakramen Baptis, saya dan saudara bukan saja menerima dua tanggungjawab di atas melainkan diharapkan utk mempertanggunjawabkan iman Katolik kita sampai akhir hayat hidup kita. Maka dengan iman yang sama dan teguh akan Yesus Kristus yang “Sengsara, Wafat, & Bangkit dari alam maut” itulah kita dituntut secara radikal untuk memohon keselamatan kekal bagi semua arwah orang beriman yang telah meninggal dunia.4. Karena sebagai orang beriman, pada suatu saat kita akan mengalami situasi yang sama yakni KEMATIAN. Maka selain mendoakan keselamatan mereka, kita pun telah mendoakan keselamatan diri kita, bilamana maut merenggut hidup kita kapan saja.

   2). MENGAPA ADA ORANG YANG HARUS KE SURGA TAPI BERHENTI SEJENAK DI API PENYUCIAN? AJARAN TENTANG API PENYUCIAN?.Setelah membaca pertanyaan ini, tiba- tiba saya terinspirasi untuk membuat sebuah cerita analog singkat dengan judul : TERANTUK BATU. Cerita abstraksinya, demikian : “Ketika kita terantuk atau tersentuh sebuah batu atau benda, kaki kita terasa sakit. Nah, lebih parah lagi jika bukan saja terasa sakit tetapi sampai keluar darah. Situasi semacam ini sangat menjengkelkan hati kita. Padahal kita hendak mengejar maksud atau kepentingan yang amat mendesak. Akankah kita kembali utk mengobati luka di kaki atau kita meneruskan perjalanan kita?”. Sampai di sinilah rangsangan singkat dari kisah di atas yang dapat saya bandingkan dengan pernyataan : “Orang yg harus pergi ke Surga tapi berhenti sejenak di Api Penyucian”. Orang yang telah meninggal, tak akan pernah hidup kembali seperti semula untuk menyampaikan kepada sesamanya tentang cara-cara yang handal untuk bisa masuk Surga. Sampai kapan pun tak akan ada mujizat yang nyata di tengah-tengah kita. Bilamana hal itu terjadi, maka sesungguhnya Surga menjadi milik kita semua tanpa ada perjuangan dari diri kita masing-masing. Namun lewat Sabda Yesus dalam Kitab Suci, ajaran-ajaran Gereja Katolik oleh bapa-bapa Gereja, maka kita diberikan satu konsep yang handal bahwa di saat kita meninggalkan dunia, saat yang sama pul kita diminta pertanggungjawaban dari Allah sendiri. Jadi sesungguhnya pernyataan “Orang yg harus pergi ke Surga tapi berhenti sejenak di Api Penyucian” adalah sebuah konsep teologis yang dicetuskan oleh Gereja sendiri untuk semakin mengingatkan sesama kaum beriman, agar sejak dini sudah mesti berjaga-jaga akan hari penghakiman terakhir di hadapan Allah. MENGAPA ADA ORANG YANG HARUS KE SURGA TAPI BERHENTI SEJENAK DI API PENYUCIAN? AJARAN TENTANG API PENYUCIAN?. Karena orang Katolik yakin dan percaya bahwa dosa mereka belum diampuni secara total sebagai citra Allah yang kekal dan abadi. Dalam perspektif Kristologis, dikenal dua tindakan Allah yang sejati yakni Allah Pencipta dan Allah Penyelamat. Tindakan Allah yang pertama merupakan tindakan kasih yang tak terhingga batasnya kepada kita semua yang beriman kepada-Nya melalu Putera- Nya Yesus Kristus. Sedangkan tindakan Allah yang kedua merupakan sebuah panggilan bebas bagi kita untuk mengalami tindakan penyelamatan-Nya yang abadi, namun hal ini hanya bisa dialami oleh kita manakala sungguh-sungguh hidup seturut perintah atau ajaran-Nya. Walaupun ada konsep dari Gereja bahwa keselamatan kekal hanya terjadi di dalam Gereja, namun sesungguh tak berlaku mutlak bila kita sia-siakan kebaikan Allah dalam seluruh pergumulan hidup kita.Akhirnya saya menciptakan satu konsep berpikir secara teologis bahwa : ADA ORANG YANG HARUS KE SURGA TAPI BERHENTI SEJENAK DI API PENYUCIAN adalah sebuah situasi batas yang mesti dijalani dengan serius sebagai imbalan akan rahmat kehidupan yang diberikan Allah dengan cuma-cuma atau gratis. Di sana ia mengalami NAUSEA (Krisis Hidup) karena ia telah menyia-nyiakan rahmat Allah yang diperolehnya. “Kata berhenti mengandung makna batas yang mesti dilewatinya. Inilah tuntutan radikal dari Allah sendiri kepada orang yang telah meninggal dunia”.

5.  MENGAPA KITA ORANG KATOLIK HARUS MENDOAKAN ORANG YANG TELAH MENINGGAL? Inilah jawabanya: “Jangan berdoa untuk orang yang telah meninggal” adalah dogma baru yang diajarkan oleh Luther kepada para pengikutnya hanya agar nampak ada perbedaan teologi dari gereja akarnya. Tapia pa yang benar adalah baik Kitab Suci maupun tradisi Kristen menganjurkan tentang pentingnya mendoakan sanak-saudara dan sesama yang telah meninggal dunia. Semua gereja awal (maksudnya sebelum protestantisme) bahkan yang memisahkan diri dari gereja katolik pun masih tetap mendoakan arwah. Pertanyaan untuk direnungkan dan dijawab secara teologis yakni; “Dapatkah kita membantu mereka yang kita doakan melalui doa-doa kita?”

Untuk mempertahankan teologinya yang salah, yang tidak didukung oleh Kitab Suci maka Luther bahkan mencoba menghancurkan tatanan Kitab Suci itu sendiri yang berbicara tentang “doa untuk para arwah.” Selama 1500 tahun semua kitab yang termaktub dalam Kitab Suci (yang adalah usaha Gereja Katolik lewat kuasa para Paus) diterima tanpa ada banyak pertanyaan, apalagi untuk mengubahnya dalam arti menambahkan atau mengurangi jumlahnya. Tetapi Luther, demi kepentingan membela ajarannya, mengecualikan (mengeluarkan dari kumpulan Kitab Suci) beberapa kitab yang jelas mengajarkan kebalikan dari ajarannya, seperti kitab Makabe 1 dan 2 serta buku2 lainnya yang dinamai dalam Gereja Katolik sebagai kitab Deuterokanonika. Kitab2 ini muncul dari dalam tradisi para leluhur yang hidup di Yerusalem yang kemudian ditemukan dan diterjemahkan oleh St. Hironimus. Bahkan kalau mau jujur maka kita mengatakan bahwa Yesus sendiri kadang mengutip apa yang tertulis dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dalam pengajaran-Nya. Secara khusus, Kitab Makabe 2 memberikan dasar dalam tradisi gereja untuk mendoakan arwah (lih. 2 Makabe 12:42-46).

Jesus sendiri pernah berdoa untuk yang meninggal seperti yang tertulis dalam Yoh 11:41; ketika Ia mendoakan mohon kebangkitan Lazarus, teman baik-Nya. Kalau doa untuk orang meninggal tidak penting, kenapa Yesus harus mendoakan dan dengan kuasa-Nya Ia membangkitkan Lazarus setelah 4 hari meninggal? Karena itu, kesimpulannya, “doa lebih besar kuasanya dari kematian itu sendiri.”

Dengan demikian, ketika sanak keluarga kita ada yang meninggal, itu menjadi tugas kita untuk mendoakan mereka. Kita memohonkan rahmat pengampunan Tuhan kepada yang telah meninggal. Santo Paulus juga pernah berdoa untuk Oniseforus yang telah meninggal dalam 2 Tim 1:16-17. Sekali lagi, kalau untuk alasan berhadapan dengan kaum protestan yang mengkritik ajaran ini maka dengan sangat mudah kita membuktikan kebenaran ajaran ini sekaligus menunjukkan betapa tidak konsistensinya mereka dalam menerapkan isi Kitab Suci.

6. MENGAPA ADA ORANG YANG HARUS KE SURGA TAPI BERHENTI SEJENAK DI API PENYUCIAN? Ini sebenarnya pertanyaan pancingan saja untuk menjelaskan tentang API PENYUCIAN menurut pemahaman Gereja Katolik. Inilah jawabannya:

Rasanya aneh tapi inilah kebenarannya bahwa “ORANG KRISTEN PERCAYA AKAN ADANYA API PENYUCIAN SEBELUM MEREKA PERCAYA AKAN INJIL.” Mengapa? Karena kita tidak menemukan istilah “API PENYUCIAN” di dalam Kitab Suci, tetapi Injil tetap mendukung ajaran ini. Mengapa istilah itu tidak ada dalam Injil maka jawaban akan dikembalikan pada penegasan dengan huruf besar di atas bahwa “Orang Kristen lebih dulu percaya akan adanya “api penyucian” sebelum Injil ditulis dan dikumpulkan menjadi seperti apa yang kita miliki sekarang.

Menurut ajaran Katolik, “Api Penyucian” bukanlah sebuah tempat seperti yang salah dimengerti dan dikritik oleh musuh-musuh gereja Katolik, melainkan sebuah keadaan/keberadaan manusia yang dimulai dari pembabtisan dan mencapai kesempurnaan setelah kematian (Bdk, penjelasan Fr. John Lartutul). Inilah kepenuhan tranformasi jiwa di dalam Kristus (Rom 13:14) dan kesempurnaan di dalam kekudusan (1Ptr. 1:16).

Sebagaimana kita tahu bahwa, kita tidak cukup kudus untuk masuk Surga secara langsung. Bahkan para kudus yang hari ini kita rayakan pestanya tidak pernah berpikir bahwa dengan kekudusannya mereka langsung masuk Surga. Inilah kebenarannya bahwa “SESUATU YANG TIDAK KUDUS BISA MASUK DALAM SURGA. Mengapa? Karena Surga adalah tempat tinggalnya YANG KUDUS, ALLAH sendiri. Tetapi Allah selalu memanggil kita untuk menjadi kudus seperti Diri-Nya dengan mengatakan; “JADILAH KUDUS, SEBAB TUHAN ALLAHMU ADALAH KUDUS.” (Im 19:2) Sebaliknya kita juga bukanlah sepenuhnya orang berdosa yang juga harus langsung ke neraka, atau penghakiman terakhir. Bahkan orang berdosa yang telah berbuat banyak hal baik selama hidupnya di dunia juga akan mendapatkan imbalan ketika Yesus berkata; “Jika engkau memberi segelas air kepada salah seorang karena nama-Ku maka kamu akan mendapatkan imbalan.” Karena itu, kita bisa menyimpulkan bahwa “PERBUATAN2 BAIK KITA TIDAK AKAN DIHADIAHI NERAKA DAN PERBUATAN2 JAHAT KITA TIDAK AKAN MASUK KE DALAM SURGA.” Karena itu, keadilan dan belas kasih Allah-lah yang memungkinkan adanya penyucian jiwa seseorang dari dosa sehingga jiwa itu mendapatkan kepantasan untuk bersatu dengan Allah.....

7. Soal api penyucian: untuk saya orang perlu bersih dlu sebelum masuk surga. ga mungkin masuk surga dl keadaan yang kotor kan? krn Allah begitu mencitai kita mka disediakanlah t4 pemandian berupa Api penyucian, disanalah Allah memandikan kita, pake sabun, sampo n harum2am biar bersih dan wangi sehingga kita layak masuk surga.
Soal mendoakan para arwah. saya sendiri pernah mendengar bahasa tua "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya". leluhur dan keluarga kita yang telah meninggal adalh pahlawan yang sangat dekat denga kita. wajarlah apabila kita menghotmati dengan mendoakan mereka. jika demikian, terbukti bahwa kita adalah keluarga kristen yang besar.

8.  kita umat Khatolik memperlihatkan keyakinan 3 macam gereja:
1). Gereja Peziarah atw pejuang yaitu kehidupan umat beriman di dunia spt saat kita skrg       ini yg msh terus dlm pergumulan mengalahkan kejahatan.
2). Gereja menderita : ialah umatberiman yg telah meninggal dunia namun msh harus      menebus dosa2nya sblm mrk bergabung dng pr kudus di surga.
3). Gereja mulia/Jaya : ialah umat beriman yg telah jaya dlm perjuangannya melawan       kejahatan/dosa dan kini hidup abadi di surga.
Bhw byk org yg sdh meninggal tdk layak u/ msk ke surga jd “ hrs mandi bersih dan disampo terlebih dahulu” agar kudus & layak dihadapanNYA. hal ini pun mjd pokok iman kita spt dinyatakan dlm sepenggal syahadat “yang turun ke tempat penantian” disini kita yakin bhw dosa2 yg tdk bs disesali pd saat kematian perlu dibersihkan atw disucikan stlh kematiannya/ hukuman dosa yg blm dilunasi di dunia akan dilaksanakan melalui api pencucian.di pengajaran yg sy pernah sy dptkan pernah dikatakan jg bhw sesungguhnya tdk ada “Api” scr harafiah, yg dimaksud adl “penderitaan yg dialami oleh mereka krn kerinduan u/melihat dan bertemu ALLAH (face to face) dlm cinta kasih yg sempurna (1 Kor 13:12) blm terpenuhi.
Selain kitab 2 Makabe yg terangkan Rm.Inno tentang dasar biblis mengapa kt mendoakan mrk yg sdh meninggal, sy jg mencatat dlm seminar yg sy ikuti -Mzm 49: 14-16 yaitu tentang Allah yg akan membebaskan nyawa kita dr cengkraman dunia kematian “sebab Ia akan menarik kita”.
‎- 1 Yoh 5: 16-17 “Klo seseorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yg tdk mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kpd ALLAH dan Dia akan memberikan hidup kpdnya....”berdoa kpd ALLAH melalui para kudus berarti kita berdoa kpd ALLAH bersama para kudus, diyakini bhw doa2 kita jg disampaikan oleh para kudus kpd ALLAH.co : Abraham mendoakan sodom & gomora (Kej 18: 16-33), Musa mendoakan umat Israel (Kel 31: 11-14), bangsa Israel minta didoakan oleh Samuel (1 Sam 12: 19) atw dlm perjanjian br ada : Yesus berdoa u/para muridnya di dunia (Yoh bab 17), Paulus mendoakan umatnya (Roma 1:10 dan Ef 1:16), krn dlm kehidupan sehari2 pun kita sering minta didoakan org lain, terlebih dlm perayaan Ekaristi baik yg msh hidup maupun yg sdh meninggal.fakta bhw adanya Api pencucian jg nyata pd Yesus yg menampakkan dirinya kpd sr. St. Faustina th 1937 yg wkt itu berusia 20 Th bhw mrk (jiwa2) tinggal dlm “kurungan sempit” bhw mereka perlu dibenamkan dlm samudera Kerahiman Ilahi, Doa Koronka melalui Luka2 Yesus g telah mencurahkan darah, jg telah menebus dosa kita (Ibr 9: 22), semua pengetahuan yg sy dpt jg boleh menambah wawasan teman2 yg lain, Rm. Inno mhn dikoreksi apabila ada kesalahan.....yg mjd refleksi sy dan kita semua, apakah kita msg2 yg sdh menyandang nama santa/santo pelindung kita msg2 mengenal mereka scr pribadi atw plg tdk kita tau perjalanan hidup mrk sampai mjd kudus..... shg kita pun yg memakai namanya sedikit byk dpt mencontoh hidupnya.


9. Tambahan penjelasan dari buku Katekismus Katolik sebagai berikut: KGK 633 Kitab Suci menamakan tempat perhentian orang mati, yang dimasuki Kristus sesudah kematian-Nya “neraka”, “sheol” atau “hades” (Bdk. Flp 2:10; Kis 2:24; Why 1:18; Ef 4:9), karena mereka yang tertahan di sana tidak memandang Allah (Bdk. Mzm 6:6; 88:11-13). Itulah keadaan semua orang yang mati sebelum kedatangan Penebus, apakah mereka jahat atau jujur (Bdk. Mzm 89:49; I Sam 28:19; Yeh 32:17-32). Tetapi itu tidak berarti bahwa mereka semua mempunyai nasib sama. Yesus menunjukkan hal itu kepada kita dalam perumpamaan tentang Lasarus yang miskin, yang diterima (Bdk. Luk 16:22-26) “dalam pangkuan Abraham”. “Jiwa orang jujur, yang menantikan Penebus dalam pangkuan Abraham, dibebaskan Kristus Tuhan waktu Ia turun ke dunia orang mati” (Catech. R. 1,6,3). Yesus tidak datang ke dunia orang mati untuk membebaskan orang-orang terkutuk dari dalamnya (Bdk. Sin. Roma 745: DS 587), juga tidak untuk menghapuskan neraka (Bdk. DS 1011; 1077), tempat terkutuk, tetapi untuk membebaskan orang-orang benar, yang hidup sebelum Dia (Bdk. Sin Toledo IV 625: DS 485; bdk juga Mat 27:52-53).Jadi “neraka” yang dimaksud di sini adalah tempat penantian orang mati, yang disebut dalam Kitab Suci sebagai “sheol” atau “hades”, atau yang diartikan sebagai tempat yang ada di bagian bumi yang paling bawah, kuasa maut ataupun dunia orang mati. Namun “neraka” di sini (lihat bahwa digunakan tanda kutip untuk mengatakannya) bukan berarti Tuhan Yesus masuk ke neraka untuk disiksa di neraka, atau membebaskan orang- orang yang terkutuk di dalamnya, atau untuk menghapuskan neraka, dan ini sudah dijelaskan dalam KGK 633 itu sendiri. Maksud Tuhan Yesus datang ke dunia orang mati itu adalah untuk membebaskan/ menjemput jiwa orang- orang benar yang hidup sebelum Dia wafat. Hal ini untuk menggenapi firman Tuhan bahwa Kristuslah yang menjadi yang sulung, yang yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga yang lebih utama dalam segala sesuatu…. oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu…. baik yang di ada di bumi maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mangadakan pendamaian oleh darah salib Kristus (Kol 1:18-20). Kristuslah yang pertama kali membuka pintu surga kepada umat manusia, setelah Ia wafat dan bangkit; dan Ia mengajak serta semua jiwa orang benar yang telah wafat sebelum Dia, untuk turut menikmati buah penebusan-Nya di kayu salib, yaitu: kemuliaan kekal di surga bersama-Nya.


10. salah satu landasan Biblis tentang “Api Penyucian”. Hal ini tercantum pula dalam 1Ptr.3:19-20, teks Biblis ini dapat menunjang paham Katolik bahwa sesudah kematian pun ada kemungkinan bagi roh-roh tertentu untuk mengalami perubahan keadaan; teks 1Ptr.3:19-20 antara lain berbunyi :”……Dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah……” Jadi setelah Yesus wafat, Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh dalam penjara. Memang sulit menafsirkan arti teks ini. Pendapat para ahli tafsir berbeda-beda. Namun yang jelas ada kemungkinan untuk mengartikan 1Ptr.3:19 sebagai pewartaan Injil yang dalam arti tertentu dapat mengubah nasib jiwa-jiwa tertentu.

http://www.facebook.com/home.php#!/home.php?sk=group_152992381409379&view=doc&id=156207984421152

Romo: Inno Ngutra. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar